Kaka 2.
Kaka ku yang kedua perempuan,dia cantik. Aku sangat sayang padanya,teramat sayang. Aku tidak bisa bercerita banyak tentang dia,karena memang hanya sebentar saja yang berkesan dihati ini tentangnya,
yang ku ingat,dia selalu memperhatikanku, baik di dalam tindakan maupun ucapanku,dia pandai bergaul,supel,dan selalu ceria seperti anak remaja pada umumnya, kira" taun 97 atau 98,dia menikah dengan cucu orang kaya dikampungku,namun pernikahan mereka kurang mendapat restu dari orang tua suaminya,maklum kami dari keluarga miskin,sedangkan dia cucu orang kaya, jadi,kakenya yang kaya bukan orang tua suaminya,(ma'af kalau kurang paham,silahkan baca bab 1 .Aku) pernikahan mereka selalu di hiasi keributan,salah paham dan mungkan kdrt,aku sendiri kurang memperhatikannya,karena waktu itu kita se olah" larut dalam dunianya masing",
entah berapa kali aku mendengar bahwa kaka akan cerai dengan suaminya,tapi tetap saja mereka masih bersama,sampai akhirnya kakaku mengandung dan mempunyai seorang anak. Aku ingat waktu dia hamil 9bulan,pas aku akan berangkat kerja kejakarta.dia berpesan padaku,"de, kalo kamu pulang kerja nanti,tolong aku belikan kasur bayi,untuk ponakanmu nanti," aku tak menjawab,lantas "kamu mau punya ponakan laki atau perempuan,?" aku jawab "laki-laki dong," ,kakaku tersenyum. "ya sudah hati-hati kamu disana de,!! Inget pesananku yah,belikan kasur bayi." aku berangkat.
setelah be"rapa minggu aku kerja,aku mendapat kabar bahwa kakaku sudah melahirkan.aku senang karena akan mempunyai keponakan pertama,lebih gembiranya lagi ternyata yang lahir laki-laki, yeeeh hatiku gembira sekali mendengar kabar itu,tak sabar rasanya aku ingin segera pulang.
Setelah menunggu beberapa hari,akhirnya bos mengizinkan aku pulang. Sebelum ke rumah aku mampir dipasar membeli apa yang dipesan kakaku.
Dengan tas berisi pakean kotor kerja. Ditambah kasur bayi,kalian bisa bayangkan betapa besar dan padatnya tas ku. Aku tak peduli orang" melihatku mungkin sangka mereka aku akan camping ke gunung.
Sesampainya di pintu rumah,pemandangan apa yang aku lihat,? Ada seorang bayi dirumahku, wuaaah senangnya aku,namun aku melihat kaka,dengan jarum kaput kecil dan benang ditangannya dia sedang membuat guling kecil,yang mungkin akan dipakai untuk anaknya. Hatiku teriris melihat dia seperti itu, hatiku berkata "mana suaminya,? Mana tanggungjawabnya,? Sampe kaka membuat guling kecil sendiri.tak mampu untuk membelinya." langsung aku keluarkan isi tas ku yang berisi perlengkapan kasur bayi itu,kaka mengeluarkan airmata,lalu dia memeluku dan berkata,"kamu memang adik yang paling mengerti de,".ter sedu".
aku tatap bayi itu, oh sungguh manis,wah manisnya, ku gendong dia,kucumbu ponakan pertamaku,.
Hee,uh,,sungguh manis masa" dengan kaka ke 2 ku itu.dia selalu menghiburku disaat apapun. Kami saling menghibur bernyanyi,tertawa,gembira bersama. Namun sayang, setelah dikaruniai seorang anak,rumah tangga tidak makin baik. Hingga puncak dari pertikaian mereka adalah perceraian.dan itu terjadi di saat kakaku sangat membutuhkan pendamping untuk merawat anak,dan menopang hidupnya.karna memang dia tak mau menyusahkan bapa, yang memang sedang kesulitan membiayai hidup kami dari hasil servis mebeul kecil"an.tapi yah itulah kejadiannya. Bertambahlah beban bapa waktu itu dengan hadirnya bayi kakaku.sedangkan bapa masih harus membiayai adik"ku yang masih sekolah dasar. Aku yang waktu itu tidak bekerja, dua kakaku,dan bayi keponakan pertamaku. Heuh sungguh berat memang beban bapa.akhirnya diantara kami sering timbul salahpaham dan terjadi keributan karena hal"sepele,berebut lauk makanlah apalah,dan membuat stres bapaku meningkat.
Kaka ke 2ku mencoba untuk rujuk,tapi apa daya orangtua suaminya tak menyetujui. Sehingga membuat otaknya tak bisa berpikir panjang dan jernih yang akhirnya larut dalam putus asa.
puncaknya,malam itu udara diluar sangat dingin,angin berhembus sangat kencangnya.aku malas untuk keluar dan tak mau beranjak dari tempat tidur. Kira"waktu menjelang subuh aku dengar kaka 1 memangglku dan berkata,"bangun-bangun kakamu membakar diri". Setengah tertidur dengan gobloknya aku berkata,"aah,, ga mungkin, ada-ada saja" lalu aku tidur lagi.dan,kudengar suara gaduh orang banyak didepan rumahku aku bukamata ternyata sudah siang,dan aku keluar,lalu salah seorang saudaraku menarik tanganku dan berkata,"cepat mandi,kakamu di rumah sakit,kita kesana" benakku "apa mungkin kakaku senekad itu,?"aku tak percaya,mana mungkin kakaku yang periang dan sangat pandai bergaul melakukan hal bodoh semacam itu,.
Aku menuruti saja apa yang disuruh saudaraku itu,dan tetap sambil meraba-raba apa benar kakaku demikian,.
Diperjalanan menuju rumah sakit aku hanya terdiam.mendengar obrolan"yang lain tentang kejadian yang menimpa kakaku.sesekali kudengar,ya alloh ko tega yah.sampai nekad gitu yah.. Aku hanya diam.tak bisa mengucap.dan hanya terbayang wajah kakaku dan sesekali mendengar serius obrolan mereka.
Sesampainya di rumah sakit.kami bergegas menuju ruang ICU dimana kakaku dirawat,.
aku mencari-cari, "mana kaka,mana kaka" karena yang lain sudah lebih dulu,sampai disatu ruang,.aku terkejut dan sedikit tak percaya,ada seorang pasien dengan tangan dan seluruh muka di balut perban dan bibir yang tebal memerah,dia berkata "de,de ini kaka de, sini de,?" aku terkejut tak kuasa menahan air mata.yang mengalir.aku hampiri dia dan aku masih tak bisa mengucap apapun, dengan terbata-bata kaka kembali mengucap "de,ini kaka de, maafin kaka ya,dan tolong jaga ponakanmu! ini semua salah kaka de," aku tetap tak bisa berkata,karena saking terhentak, terguncang dan hanya bisa menatap wajahnya sambil ku pegang erat jari tangannya,dengan menangis lalu aku menjawab "pasti,pasti akan ku jaga ka," tak lama kemudian aku lari keluar ruang. menangis sejadi-jadi,menyesal,mengapa aku tak mendampingi kaka di saat dia butuh tempat curahan hatinya.tak habis fikir mengapa kaka bisa berbuat senekad itu,.
setlah kira" 5 hari dirawat di rumah sakit kaka tak kuat lagi melawan luka bakar yang dideritanya,80%tubuhnya melepuh,dan akhirnya tak bisa diselamatkan,dia meninggal,.
dalam kenangan NENENG NURAENI (1980-1999)
sebagai pertimbangan dasar untuk terus melanjutkan hidup.
BalasHapus